Skor Kredit 600: Baik atau Buruk?

Skor kredit adalah indikator kelayakan kredit seseorang yang dibuat oleh lembaga yang memiliki wewenang dan izin dari pemerintah. Skor ini umumnya digunakan oleh Lembaga Jasa Keuangan (LJK) atau non-Lembaga Jasa Keuangan (LJK) sebelum menyetujui aplikasi pinjaman calon debitur.
Penerbitan skor kredit biasanya menjadi salah satu faktor utama bagi LJK atau non-LJK untuk memutuskan apakah aplikasi pinjaman Anda disetujui atau tidak, seberapa besar pinjaman yang diperoleh, tingkat suku bunga, dan jangka waktu pelunasan yang bisa Anda dapatkan.
Skor kredit biasanya terdiri dari kode angka dan alfabet yang menggambarkan profil risiko debitur. Skor ini dihasilkan dari berbagai sumber seperti riwayat pinjaman, pembayaran, slip gaji, catatan pendapatan, dan transaksi harian.
Bagi yang belum familiar, LJK terdiri dari bank, perusahaan pembiayaan, penyedia asuransi, sementara non-LJK mengacu pada entitas seperti pegadaian, penyedia layanan telekomunikasi, platform e-commerce, dan lainnya.
Saat ini, sebagian besar lembaga keuangan di Indonesia masih menilai skor kredit seseorang menggunakan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang disediakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan metode pembayaran digital dari waktu ke waktu, transaksi digital juga meningkat, sehingga penggunaan data alternatif menjadi penting. Beberapa data alternatif tersebut adalah transaksi e-commerce, telekomunikasi, langganan layanan digital, dan tagihan listrik.
Menurut laporan tahun 2024 dari Tech In Asia, transaksi digital dari belanja online mencapai hingga 59% dari aktivitas pengguna internet. Data ini menunjukkan perlunya memperluas kredit, karena data yang ditampilkan mungkin tidak mencerminkan kemampuan keuangan sebenarnya dari para debitur. Lembaga Keuangan (Bank) atau Lembaga Keuangan Non Bank membutuhkan perangkat evaluasi yang lebih komprehensif untuk memaksimalkan proses penilaian calon debitur.
Untuk membantu klien menjangkau segmen pasar baru, PT CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK) memanfaatkan akses data yang lebih luas dan beragam, sehingga memungkinkan klien mendapat gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi keuangan calon debitur. CLIK memberi gambaran situasi keuangan secara lebih akurat dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, seperti transaksi e-commerce, telekomunikasi, langganan layanan digital, dan tagihan listrik. Dengan data yang lebih kaya, lembaga keuangan dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi keuangan calon debitur berdasarkan riwayat transaksi sebelumnya dan potensi perilaku keuangan calon debitur di masa depan.
Secara umum, dalam biro kredit swasta, skala kelayakan kredit diukur dengan skor kredit dalam beberapa kategori. Presiden Direktur PT CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK) Leonardo Lapalorcia menjelaskan, untuk menentukan skor kredit calon debitur, CLIK membagi kelompok skor kredit dalam bentuk angka dan huruf sebagai indikator tingkat risiko debitur.
Berikut informasi pengelompokannya:
- Skor antara 151 hingga 319 atau A-B dikategorikan sebagai peminjam dengan risiko sangat tinggi, sementara skor antara 320 hingga 519 atau C-D dikategorikan sebagai peminjam dengan risiko tinggi. Jika skor kredit calon debitur masuk ke dalam kedua kategori ini, kemungkinan besar pengajuan pinjaman akan ditolak atau dikenakan bunga lebih tinggi. Oleh karena itu, calon debitur sebaiknya mempertimbangkan untuk menunda pengajuan baru atau melunasi hutang-hutang sebelumnya.
- Skor antara 520 hingga 545 atau E termasuk kategori peminjam dengan risiko sedang, dan 546 hingga 578 atau F-G-H masuk ke kategori peminjam dengan risiko sedang-rendah. Debitur dengan riwayat pembayaran tepat waktu umumnya masuk ke dalam kategori ini. Dalam kondisi ini, pinjaman baru berpeluang mendapat bunga yang lebih rendah dan nominal pinjaman yang lebih tinggi.
- Skor dalam kisaran 579 hingga 596, dikategorikan dengan I atau peminjam dengan risiko rendah, dan skor di atas 596, atau kategori J, masuk ke peminjam dengan risiko sangat rendah. Debitur dalam kategori ini akan mendapat kesempatan yang lebih besar untuk mendapat jumlah yang lebih besar dengan bunga terbaik dari lembaga keuangan.
Skor Kredit 600: Pengertian dan Cara Mendapatkannya
| Kelompok | Skor | Kelompok Risiko |
| A-B | 151-319 | Sangat Tinggi |
| C-D | 320-519 | Tinggi |
| E | 520-545 | Sedang |
| F-G-H | 546-578 | Sedang-rendah |
| I | 579-596 | Rendah |
| J | >596 | Sangat-rendah |
Saat ini, calon peminjam dengan skor kredit 600 dianggap memiliki risiko kredit sangat rendah. Artinya, dari perspektif lembaga keuangan, orang tersebut dianggap memiliki kemungkinan gagal bayar yang cenderung rendah. Namun, individu yang berada di dalam kelompok tersebut hanya mencakup sebagian kecil populasi di Indonesia, terutama jika penilaiannya masih terbatas pada data keuangan utama dari rekening bank, kartu kredit, atau premi asuransi.
Data alternatif yang dihasilkan dari produk yang ditawarkan biro kredit swasta seperti CLIK —yang menggunakan sumber data dari pembelian e-commerce, pengisian ulang pulsa, langganan layanan digital, dan tagihan listrik—dapat memberikan referensi tambahan mengenai skor kredit calon debitur, atau bahkan dapat mengubah kategori debitur menjadi lebih baik, misalnya dari risiko tinggi menjadi risiko sedang atau dari risiko sedang menjadi risiko rendah.
Jika Anda adalah calon debitur dengan risiko tinggi dan bertujuan untuk mencapai target skor kredit 600, Anda dapat mencoba langkah-langkah berikut: mengelola penggunaan kredit secara efektif, memastikan pembayaran hutang dengan tepat waktu, dan mempertahankan riwayat kredit dengan memilih jangka waktu cicilan yang lebih panjang jika memungkinkan.
Baca juga: Pengajuan Pinjaman Ditolak? Cek Tips Ini agar Disetujui!
Setelah langkah di atas telah ditempuh, Anda dapat kembali mengecek skor kredit menggunakan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang disediakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau layanan biro kredit swasta terpercaya seperti CLIK sebelum mengajukan pinjaman atau kredit baru.
![[:id]Ekosistem Credit Reporting Indonesia: Studi tentang Kerangka Regulasi dan Perimeter antara PCR & PCB[:en]Indonesia Credit Reporting Ecosystem: Study on Regulatory Frameworks and Perimeter Between PCR & PCB[:]](https://cbclik.com/wp-content/uploads/2024/10/Ekosistem-Credit-Reporting-Indonesia-Studi-tentang-Kerangka-Regulasi-dan-Perimeter-antara-PCR-PCB-150x150.jpg?crop=1)
![[:id]Apakah Skor Kredit Anda Berubah Setiap Kali Anda Memeriksanya? Inilah Alasannya![:en]Does Your Credit Score Change Every Time You Check It? Here's Why![:]](https://cbclik.com/wp-content/uploads/2024/11/Apakah-Skor-Kredit-Anda-Berubah-Setiap-Kali-Anda-Memeriksanya-Inilah-Alasannya-150x150.jpg?crop=1)